Berita Terkini

60

TINGKATKAN KAPASITAS : KPU TRENGGALEK MENGIKUTI PERKEMBANGAN TAHAPAN PILKADA 2017

Tahun ini KPU Kabupaten Trenggalek memang tidak ada penyelenggaraan Pilkada karena Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Trenggalek sudah digelar dan diselesaikan pada tahun 2015 lalu. Tetapi, KPU Kabupaten Trenggalek tidak pernah berhenti untuk mengikuti dinamika Pilkada di daerah lain. Hal itu dilakukan oleh para komisioner dan para pegawai KPU Kabupaten Trenggalek di sela-sela kegiatan kerja harian. Ketua KPU Kabupaten Trenggalek, Suripto, mengatakan bahwa dia selalu mengingatkan pada anggota KPU dan  para pegawai agar terus mengikuti dinamika Pilkada yang diselenggarakan oleh KPU daerah lain. Hal itu harus dilakukan agar sebagai penyelenggara pemilu, KPU Kabupaten Trenggalek tidak ketinggalan isu dan memahami peraturan-peraturan baru yang terus berkembang. “Hal itu untuk membuat agar tidak ketinggalan wawasan tentang kepemiluan, agar jika ada yang tanya bisa menjawab dan menguasai aturan”, kata Suripto. Suripto punya anggapan bahwa di era di mana media semakin dekat dengan masyarakat, tidak menutup kemungkinan warga yang tinggal di Trenggalek atau daerah lain juga mengikuti dinamika politik di daerah lainnya. “Seperti Pilkada di DKI Jakarta misalnya, yang jadi perhatian nasional, pasti banyak warga Trenggalek yang mengikuti beritanya”, tambah pria alumni IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu. Suripto menambahkan bahwa dirinya terus menugaskan bagian hukum untuk menginventarisasi aturan-aturan baru yang dibuat KPU tentang tahapan Pilkada 2017. Aturan-aturan itu bahkan dicetak dan dibagikan pada anggota KPU Kabupaten Trenggalek agar punya bahan bacaan berupa aturan. “Sebab dari peraturan-peraturan yang diterbitkan KPU RI yang bisa diunduh di web itu, landasan teknis pelaksanaan Pilkada ada semua”, kata Suripto. Sementara itu menurut anggota KPU Kabupaten Trenggalek divisi Sumber Daya Manusia dan Partisipasi Masyarakat (SDM dan Parmas), Nurani, membaca peraturan yang ada adalah kegiatan literasi yang harus dilakukan oleh pejabat negara. Menurutnya, hal itu adalah bagian dari peningkatan kapasitas pegawai negeri. “Budaya baca harus dibangun, sebagai bagian dari peningkatan kapasitas yang akan memudahkan peningkatan kinerja dan pelayanan—terutama pelayanan informasi”, tegas pria berkepala botak ini. [Hupmas]


Selengkapnya
58

LAPORAN E-PPID KPU TRENGGALEK DIKIRIM HARI INI

Dua hari sebelum deadline pengiriman laporan E-PPID yang diinstruksikan KPU Jawa Timur, KPU Kabupaten Trenggalek sudah melakukan tugas tersebut. Hari ini (Rabu, 14/09/2016), KPU Kabupaten Trenggalek mengirimkan laporan kegiatan pengelolaan informasi publik melalui online tersebut. Hal ini disampaikan Puguh Budi Utomo, kasubag Teknis dan Hupmas KPU Kabupaten Trenggalek. Ia mengatakan bahwa proses penyusunan laporang sudah mulai dicicil sejak seminggu yang lalu dan dipertegas lagi dengan rapat Plene pada hari Selasa kemarin (12/09/2016). “Alhamdulillah, amanat pleno yang menugaskan  penyelesaian laporan jangan sampai terlambat bisa kami laksanakan”. Menurut divisi Sumber Daya Manusia dan Partisipasi Masyarakat (SDM dan Parmas) KPU Kabupaten Trenggalek, Nurani, laporan ini menandai telah dilakukannya kinerja KPU Kabupaten Trenggalek untuk periode tertentu yang nanti bisa jadi bahan evaluasi bagi pelaksanaan kegiatan dari membaca laporan tersebut dan lampiran bukti kegiatannya. Nurani menuliskan dalam kata pengantar  laporan bahwa maknanya adalah bahwa lembaga publik harus dikontrol oleh publik dan kegiatannya juga harus transparan dan bisa diketahui publik. Hak publik akan informasi harus difasilitasi. Sedangkan KPU sebagai lembaga publik juga dituntut untuk memberikan informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat yang ingin tahu informasi dan data sesuai dengan aturan yang berlaku. “E-PPID adalah keniscayaan kegiatan pelayanan di era teknologi informasi”, kata pria yang hobi menulis ini. Ditambahkan oleh Nurani bahwa kegiatan pelayanan informasi dan dokumentasi publik telah dikelola sedemikian rupa di KPU Kabupaten Trenggalek. Berbagai permintaan akan informasi selama ini dilakukan. Masyarakat yang ingin mendapatkan informasi selama ini langsung datang ke kantor KPU Kabupaten Trenggalek. Sementara itu, kemudahan untuk mengakses informasi juga bisa difasilitasi sesuai dengan perkembangan ilmu dan pengetahuan teknologi (IPTEK). Seiring perkembangan teknologi informasi tersebut, pelayanan informasi juga bisa dilakukan dengan komunikasi online. Dalam hal inilah maka kegiatan pelayanan informasi lewat online tersebut difasilitasi KPU melalui program kegiatan yang namanya E-PPID (atau PPID elektronik). “Kegiatan itulah yang dilaporkan dalam laporan ini. Semoga laporan ini bisa bermanfaat bagi kita semua. Bagi KPU Kabupaten Kota, misalnya, diharapkan laporan ini bermanfaat untuk mengetahui sejauh mana kegiatan dilakukan dan ini bermanfaat untuk melakukan evaluasi agar ke depan pengelolaan kegiatan lebih baik”, tulisnya untuk menutup laporan tersebut. [Hupmas]


Selengkapnya
60

KETUA KPU TRENGGALEK HADIRI DIALOG INTERAKTIF “MENUJU TRANSPARANSI NASIONAL” BERSAMA KPK DAN ICW

Untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik dan bersih (good and clean goverment),  Bupati Trenggalek Dr. Emil Elestianto, MSc mengahadirkan Freddy Reynaldo Hutagaul dari KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) dan  Agus Sunaryanto Wakil Koordinator ICW (Indonesia Corruption Watch) Jakarta. Acara yang berlangsung pada hari ini Rabo (14/9/2016) bertempat di Pendopo Manggala Nugraha Trenggalek dikemas dalam bentuk Dialog Interaktif  bertema “Menuju Transparansi Nasional”. Disamping Ketua KPU Trenggalek, pada kesempatan tersebut tampak hadir seluruh jajaran Forpimda, Kepala SKPD, Anggota Muspika, Kepada Kelurahan/Kepala Desa se-Kabupaten Trenggalek, Pimpinan Parpol, Ormas dan LSM. Pada kesempatan menyampaikan pidato sambutan, Bupati Trenggalek menegaskan komitmennya untuk membangun transparansi seluas-luasnya dalam masa kepemimpinanya. Karena kita semua menginginkan agar semuanya selamat dunia akherat, kata Bupati  Emil. Selanjutnya ia juga menyatakan atas kesediaannya dirinya untuk buka-bukaan kepada publik bahwa Bupati itu gajinya tidak banyak hanya sekitar 6 juta ditambah beberapa tunjangan seperti tunjangan jabatan, tunjangan istri dan anak, perjalanan dinas, uang makan, dan tunjangan rumah tangga. Karena itu menurutnya, menjadi Bupati itu bukan untuk menumpuk harta dan mencari kekayaan, tetapi untuk mengabdi kepada  rakyat dalam membangun  Trenggalek yang lebih baik. Setelah Bupati selesai meberikan sambutan dan membuka acara secara resmi, selanjutnya diteruskan dengan dialog interaktif “ Menuju TransparansiNasional” yang dipandu oleh Yudi Setiyono, SH, MH Ketua STKIP PGRI Trenggalek. Kedua Nara sumber  masing masing mendapatkan kesempatan 30 menit untuk memaparkan materinya. Mendapatkan giliran pertama  Freddy Reynaldo Hutagaul dari KPK  menyampaikan materi berjudul “Bersama Melawan Korupsi”. Menurut Pejabat Fungsional Direktorat Pembinaan Jaringan Kerja Antar Komisi dan Instansi KPK ini, ego Trenggalek perlu diangkat ke pentas nasional untuk menjadi pelopor tunas-tunas integritas ke daerah lain. Terpilihnya Bupati muda yang memiliki semangat membangun transparansi dan akuntalbilitas yang tinggi harus diberikan apresiasi. Menurut Fredo, transparansi merupakan entry point untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih dan berwibawa.  Selanjutnya alumnus Monas University Australia ini menambahkan bahwa semangat transparansi membutuhka adanya sinergi dengan berbagai pihak. Sedangakan Agus Sunaryanto dari ICW  dalam paparannya berjudul “ Demokrasi Tanpa Korupsi”, menguraikan tentang pola-pola korupsi yang dilakukan pemerintah daerah. Menurutnya di sebuah daerah yang SDAnya besar, model korupsi yang sering terjadi melalui pola memperbanyak pemberian ijin pertambangan. Akan tetapi didaerah-daerah yang SDAnya rendah model korupsi yang banyak dilakukan adalah pada sektor pengadaan barang dan jasa. Maka kata alumnus IKIP Jakarta ini  pencegahan tindak pidana korupsi tidak cukup hanya melalui pembangunan transparansi, tapi juga dibutuhkan kolaborasi, akuntabilitas dan konsistensi pemerintah untuk mewujudkan good and clen goverment. Ketika dibuka sesi dialog Ketua KPU Kabupaten Trenggalek mempertanyakan komitmen KPK dalam mewujudkan SIN (Sistem Integritas Nasional) yang telah dicanangkan dalam fokus area fase  kedua dalam road map KPK tahun 2015-2019. Dimana sampai saat ini program SIN tersebut tidak ada kejelasan arahnya mau kemana. Disamping itu Suripto juga mengusulkan agar KPK dalam memberantas korupsi lebih mengedepankan pencegahan bukan penindakan. Menurut Ripto, tidak pencegahan ini akan bisa efektif berjalan apabila terbangun ruang dialog sinergis yang mempertemukan para pelaku utama  pembangunan antara eksekutif, legislatif, udikatif dan kekuatan CSO (Civil Society Organizatiton). Sehingga adanya sinergi antara kekuatan-kekuatan ini akan dapat membangun partisipasi publik dalam pembangunan sejak dari perencanaa, pelaksanaan, monitoring dan evaluasinya, tegas Ripto.


Selengkapnya
69

MENYELAMATKAN DATA YANG DIMAKAN USIA

Rapat Pleno mingguan kembali digelar KPU Kabupaten Trenggalek pada Selasa, 13 September 2016 pagi ini. Rapat pleno dimulai sekitar pukul 9.30, diikuti oleh para komisioner, sekretaris,  kasubag, dan notulen rapat. Rapat pleno yang seharusnya dilakukan tiap hari Senin kemarin, terpaksa dilakukan hari ini karena Senin kemarin adalah tanggal merah dalam rangka memberingati Hari Idul Adha 1437 H. Topik rapat pleno kali ini adalah tentang persiapan laporan e-PPID 2016 yang harus selesai dirampungkan paling lambat tanggal 16 September 2016. Setelah dibuka oleh Ketua KPU  Kabupaten Trenggalek, rapat dilanjutkan dengan pemaparan dari Divisi SDM dan Parmas selaku divisi yang membidangi kegiatan e-PPID. Dalam paparan tersebut dapat dilaporkan bahwa laporan e-PPID sudah hampir selesai dan tidak ada hambatan yang berarti dari apa yang dikerjakan oleh sekretariat KPU Kabupaten Trenggalek yang dibidangi oleh Bagian  Teknis dan Hupmas. Sementara itu dalam diskusi di rapat teridetifikasi beberapa masalah. Salah satu yang menonjol adalah  kurang maksimalnya data yang akan disediakan di e-PPID. Terutama data-data pemilu lama. Karena selama ini manajemen lama di KPU yang secara umum petunjuk teknis tentang pengorganisiran data dan arsip masih belum ada petunjuk yang jelas.  Sementara era belakangan ini tuntutan keterbukan informasi semakin dibutuhkan, upaya untuk menyajikan data-data pemilu lama sebelum era keterbukaan muncul  bertubrukan dengan ketidaksediaan data mengingat kacaunya sistem pengorganisiran arsip dan data era lama tersebut. Hal tersebut diakui sendiri oleh Ketua KPU Kabupaten Trenggalek, Suripto, yang telah menjadi bagian dari KPU sejak tahun 2003. Selain hal itu, menurut Suripto, penanggungjawab data pada pemilu lama dulu juga kurang jelas dan dalam perjalanannya  berganti-ganti  orang. “Data yang dimakan usia juga terbentur waktu di mana saat itu  manajemen pengarsipan masih belum ada tuntutan dan panduan serapi sekarang”, aku Suripto. Dari situ, rapat pleno menyepakati bahwa maksimalisasi penyediaan data dan informasi harus tetap dimaksimalkan. Data-data dan informasi inilah yang akan diupayakan menjadi  bagian  dari data dan informasi yang akan bisa diakses publik lewat pelayanan informasi lewat online (e-PPID). [Hupmas]


Selengkapnya
70

JUMAT SEHAT KPU TRENGGALEK MENYUSURI PERKAMPUNGAN

Jumat sehat KPU Kabupaten Trenggalek kembali digelar. Meskipun pesertanya kali ini terbilang menurun, acara Jumat sehat tetap memilih kegiatan jalan santai. Tidak seperti sebelumnya yang naik gunung, kali ini Jalan santai menyusuri jalan-jalan perkampungan di sekitar kantor KPU Kabupaten Trenggalek. Berangkat sekitar [ukul 07.30, barisan pejalan sehat KPU Kabupaten Trenggalek yang kali ini hanya belasan orang ini menempuh jalur ke Barat dari kantor KPU, mengambil sisi kiri jalan raya Trenggalek ke jurusan Ponorogo. Kira-kira 700 meter dari kantor KPU yang ditinggalkan, masuk gang ke kiri alias belok ke selatan. Mulai jalan masuk inilah memasuki kawasan perkampungan penduduk. Dengan demikian, udara segar mulai terasa. Juga pemandangan yang indah, jalan yang dilalui selalu ada pohon-pohonan di kiri jalan, baik tepat pinggir jalan atau di pekarangan rumah. Beberapa rumah punya pohon turi di depannya, yang sudah  berbunga. “Ya ampuun, bunganya. Ndahneo dikulup enake”, ujar Lilis salah satu staf KPU Trenggalek ketika melihat bunga-bunga pada  beberapa pohon turi yang berjejer di pinggir jalan sebelum jalan (gang) belok ke kanan. Setelah mengambil ke kanan, setelah melalui beberapa rumah, ada jembatan besi gantung yang harus dilewati. Anggota barisan tampak senang melewati jembatan yang menghubungkan jalan antara Desa Buluagung yang ditinggalkan menuju Desa Kerjo. Kedua Desa masuk Kecamatan Karangan. Setelah jembatan da pertigaan. Kalau ambil sisi kanan, akan membawa pada Jalan Raya Trenggalek Ponorogo yang sejalur dengan jalan depan kantor KPU Kabupaten Trenggalek. Kalau terus akan menuju Kantor Desa Kerjo. Supaya rutenya tidak terlalu pendek dan suasananya masih hijau, maka  diambilan jalur ke kiri (selatan). Ternyata benar, nuansa hijau lebih dominan. Sempat ada kebun kopi kecil, kira-kira ada 70-an pohon kopi. Sedangkan kanan-kiri tetap diwarnai pohon-pohon besar. Kira-kira sekitar 700 meter setelah belokan sebelumnya, setelah melewati jembatan bambu, ada pertigaan. Sebagaimana direncanakan, tentunya rombongan mengambil jalur kiri karena itu ke arah timur. Jalan inilah yang akan membawa ke kantor KPU Kabupaten Trenggalek lagi, tentu setelah melalui belokan-belokan jalan yang sisi kanan kiri ada dipenuhi rumah. Suasana pedesaan Trenggalek kecamatan Karangan dan Kecamatan Trenggalek amat kental  sepanjang jalur jalan sejat kali ini. Setidaknya di Desa Salamrejo, para pegawai KPU dan komisioner yang ikut dibuat kagum dengan perkampungan yang tiap depan rumahnya hampir semuanya terdapat pohon Nangka yang sedang berbuah. Musim buah Nangka sepertinya. Akhir dari wilayah Desa Salamrejo adalah jembatan  besar, yang setelahnya menempuh jalur kanan. Jalur kecil berupa jalan pinggir sungai yang pada jalan sehat sebelumnya pernah dilalui. Ini akan menyebabkan jalur melingkar awalnya ke timur, ke utara, dan akhirnya sampai jalan besar yang kalau ditempuh ke Kiri (ke Barat) akan membawa ke kantor KPU Kabupaten Trenggalek. Sebelum sampai ke kantor KPU kabupaten Trenggalek, rombongan masuk gang ke arah utara (kanan). Ternyata rombongan diarahkan oleh Ali Imron, salah satu pegawai KPU yang baru saja “naik pangkat”. Rombongan diajak ke  rumahnya untuk disuguhi makanan dengan menu yang memuaskan. Sekitar jam 10.00 para pegawai dan komisioner KPU Kabupaten Trenggalek balik ke kantor yang kebetulan tidak jauh. Sekitar 700 meteran. Para  pegawai kembali beraktivitas sesuai tupoksinya masing-masing. [Hupmas]


Selengkapnya
89

KULINER KHAS TRENGGALEK YANG DISUGUHKAN SETELAH JALAN SEHAT

Ali Imron benar-benar tahu bagaimana caranya bersyukur. Pegawai KPU Kabupaten Trenggalek yang membidangi fungsi protokoler dan mengurusi surat-menyurat ini baru saja mendapatkan kenaikan pangkat sebagai pegawai. Naik dari pangkat lama sebagai Pengatur Muda Tingkat I (II/b) sejak 1 April 2012, naik menjadi Pengatur golongan ruang II/c terhitung mulai tanggal 1 April 2016 lalu. Kenaikan pangkat tersebut ditetapkan oleh Sekretaris Jenderal KPU RI Arif Rahman Hakim  di Jakarta pada 19 April 2016. Dan hari ini (Jumat, 09/09/2016) ia mengundang para peserta Jalan Sehat untuk menikmati makan di rumahnya yang terletak tak jauh dari kantor KPU Kaupaten Trenggalek. Menu yang disajikan benar-benar menu lokal yang sudah mulai jarang dinikmati oleh orang-orang Trenggalek. “Berapa sering orang Trenggalek menikmati menu Oseng Kembang Turi dan Kulupan Kenikir? Jarang kan. Nah, ini adalah menu yang luar biasa”, komentar Nurani Divisi SDM dan Parmas KPU Kabupaten Trenggalek. Menu ini disuguhkan secara “pas”. Pasalnya, sepanjang kegiatan Jalan Sehat mulai pukul 07.30 hingga tiba di rumah Imron, para “kru” KPU kabupaten Trenggalek terus disuguhi pemandangan kembang Turi di sepanjang jalan perkampungan. “Memang musim kembang Turi”, kata Imron. Dimasakkan sendiri oleh istri tercinya, Imron langsung menyuguhkan semuanya. Yang paling khas Trenggalek adalah Nasi Tiwul. Ia terbuat dari Ketela yang dikeringkan (dijemur), kemudian dijadikan tepung. Tepung inilah yang dijadikan nasi. Juga dikenal nasi Gaplek. Nama Gaplek mengacu pada Ketela yang masih dijemur kering (bakal tepung). Nasi tiwul biasanya dicampur nasi putih (beras), rata-rata begitu. Disandingkan dengan lauk Oseng Kembang Turi, kulupan Kenikir, sayur Terong dan ikan laut disayur pedas, menu ini benar-benar membuat para “kru” dari KPU Kabupaten Trenggalek makan dengan labap. Bagi Wiratno, sekretaris KPU kabupatek Trenggalek, ini adalah rejeki. Berkali-kali ia mengatakan “Terimakasih pak Imron!” sambil makan. Iapun “tandhuk”, artinya tambah lagi makannya. “Kegiatan makan sehabis jalan sehat sebenarnya bukan kali ini saja. Tapi yang istimewa dari hari ini adalah menu-nya”, papar Wiratno. [Hupmas]


Selengkapnya