Berita Terkini

119

PROFIL NUR HUDA, ANGGOTA KPU KABUPATEN TRENGGALEK DIVISI PERENCANAAN, KEUANGAN, DAN LOGISTIK

KPU-TRENGGALEKKAB.GO.ID. Nur Huda, lahir di Tulungagung, 15 Pebruari 1981. Sebagai anggota KPU Kabupaten Trenggalek yang membidangi Divisi Perencanaan, Keuangan dan Logistik. Semasa kecilnya dihabiskan dipinggiran selatan kota marmer Tulungagung tepatnya di Desa Tanjung Kecamatan Kalidawir Kabupaten Tulungagung. Sejak kecil masa pendidikan lebih banyak dihabiskan ditanah kelahiran, ditengah keterbatasan ekonomi keluarga Alhamdulillah pendidikan jenjang S1 mampu diselesaikan pada Tahun 2004 tepatnya di STAIN Tulungagung,  juga mendapat kesempatan menempuh program pascasarjana (S2) di UNMUH Surabaya lulus pada Tahun 2007. Pengalaman aktivitas Non Kepemiluan yang dimiliki Divisi Perencanaan, Keuangan dan Logistik KPU Kabupaten Trenggalek ini antara lain Pendamping pada prorgam P2SEDT pada Kementrian PDT Tahun 2009, Pendamping pada Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perdesaan Tahun 2011-2014. Pernah menjadi pengajar di STIT Sunan Giri Kabupaten Trenggalek Tahun 2007-2011 dan STAIM Tulungagung Tahun 2007-2014. Pengalaman aktivitas kepemiluan yang pernah dilakukan antara lain sebagai Pemantau Independen pada Pilpres Tahun 2004, Operator Situng pada Pileg 2004, Ketua PPK Kecamatan Karangan pada Pilgub Tahun 2008, Pileg dan Pilpres  Tahun 2009 dan Pilbup Trenggalek Tahun 2010, kemudian pada Tahun 2014 terpilih sebagai Komisioner KPU Kabupaten Trenggalek. Pengalaman aktivitas organisasi yang pernah dilakukan antara lain sebagai Sekretaris Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Syari’ah STAIN Tulungagung Tahun 2003, juga pernah menjadi Ketua Umum HMI Cabang Tulungagung periode 2005/2006. [HUD]


Selengkapnya
146

Jejak Idhul Fitri 1437 H Ketua KPU Kabupaten Trenggalek

Diantara hari-hari besar yang ada, Idhul Fitri merupakan hari raya terbesar umat Islam yang banyak melibatkan dan menjadi perhatian berbagai pihak. Begitu pentingnya peringatan hari raya yang didahului umat Islam dengan berpuasa sebulan penuh ini, di  Indonesia telah ditetapkannya sebagai hari libur nasional.  Berbeda dengan tahun sebelumnya, lebaran tahun ini jatuh pada hari yang sama, yaitu pada hari Rabo, 6 Juli 2016. Tidak ada perbedaan antara pemerintah dengan ormas-ormas Islam lainnya. Karenanya lebaran tahun ini nampak lebih meriah. Seluruh elemen lapisan masyarakat, instansi pemerintah maupun  swasta  semuanya sibuk menyambut hari Raya Idhul Fitri 1437 H dengan penuh kegembiraan. Bahkan hiruk pikuk perayaan lebaran sebagai hari kemenagan umat Islam yang selalu diiringi dengan tradisi mudik dan halal bihalal ke keluarga, sanak famili maupun ke rumah tetangga sekitar untuk sekedar saling bermaaf-maafan,  semakin memberikan warna keunikan tersendiri.   Meskipun bermaaf-maafan tidak harus dilakukan pada Hari Raya Idhul Fitri bahkan bisa dilakukan setiap saat, tetapi tradisi sungkeman untuk saling meminta dan memberi maaf  pada saat lebaran menjadi khasanah keislaman di Indonesia. Tidak berbeda dengan umat Islam lainnya, tradisi lebaran tersebut juga dilakukan oleh Ketua KPU Kabupaten Trenggalek Suripto. Sepulangnya dari menunaikan Sholat Idhul Fitri bersama keluarga, pria ramah bapak dua putri ini langsung bergegas kembali menuju  tempat kediamannya di Jl Kanjeng Jimat  No. 96A Trenggalek. Sesampainya di rumah ayah dari Fidya Fatma Fadhillah dan Fara Verifika Fadhillah ini  langsung berkumpul dengan keluarganya untuk saling mendoakan dan bermaaf-maafan. Tradisi ini sudah menjadi kebiasaan di keluarga besar Suripto yang selalu digelar setiap hari raya Idhul Fitri. Suasana kebatinan dalam sungkeman terasa sangat hikmat ketika orang nomor satu di KPU Kabupaten Trenggalek ini  bersama istrinya Prasetyorini menghampiri kedua orang tuanya untuk saling bermaaf-maafan  dan mendoakan secara bergantian.  Berikutnya acara sungkeman dilanjutkan  antara istri dengan dirinya dan diikuti kedua buah hatinya, serta adik-adiknya.  Sesaat setelah usai sungkeman di hari pertama lebaran ini juga diabadikan dengan berpose photo bersama dengan seluruh anggota keluarga. Sebelum menerima keadiran para tamu yang akan halal bihalal kerumahnya, acara sungkeman keluarga ditutup dengan doa dan makan bersama dengan menu khas Trenggalek “nasi lodho  ayam kampung” dan kue lebaran yang secara khusus telah dipersiapkan istrinya. Setelah itu, ditemani dengan beraneka macam hidangan khusus lebaran pria asal Watulimo ini tampak  sibuk menerima tamu bersama keluarga besarnya. 


Selengkapnya
153

Khutbah Idhul Fitri 1437 H : Ketua KPU Trenggalek Tegaskan Kepemimpinan Berkarakter

KPU-TRENGGALEKKAB.GO.ID. Bertolak belakang dengan profesi yang dijalaninya dalam aktivitas sehari-hari,  Suripto Ketua KPU Kabupaten Trenggalek bertindak sebagai khotib dalam sholat Idhul Fitri  1437 H di halaman SD 2 Kelurahan Surodakan, Trenggalek.  Serangkaian ibadah sunnah yang didahului dengan puasa di bulan Ramadhan tersebut berjalan dengan khusuk dan diikuti  para jamaah yang memenuhi halaman hingga meluap ke teras sekolah yang terletak di Jl.Jaksa Agung Suprapto No. 30 B Trenggalek. Menurut panitia pelaksana H. Farid Oenarno,  Ibadah Sholat Idhul Fitri di tempat ini sudah rutin diselenggarakan setiap tahun, dan alhamdulillah dari tahun ke tahun jama’ahnya semakin meningkat. Momentum ini adalah wujud dari hari kemenangan umat Islam setelah perang menahan lapar, dahaga dan segala yang membatalkan puasa selama sebulan. Hal ini berarti  bahwa tingkat kesadaran beragama umat Islam semakin meningkat dan kami sangat berharap agar kesucian di hari yang fitri ini akan tetap terpelihari di hari-hari berikutnya, tegas Farid. Sementara itu, dalam mengawali materi khutbahnya  berjudul “Kepemimpinan Berkharakter Untuk Membangun Peradaban”, Suripto menegaskan  Kemaha bijaksanaan Alloh  yang telah menganugerahkan nikmat iman, Islam, dan ihsan kepada umatnya. Dengan ketiga nikmat tersebut menurut alumnus IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini  memberikan kekuatan lahir dan batin kepada kita  untuk dapat menunaikan ibadah puasa sebulan penuh. Suatu ibadah yang berfungsi sebagai sarana pendidikan untuk mengasah spritualitas manusia agar menjadi pribadi bertakwa. Pribadi yang menyadari hakikat dirinya sebagai hamba Allah sekaligus menginsyafi tujuan penciptaannya di muka bumi sebagai khalifah, tegas Ripto. Selanjutnya dengan semangat yang tinggi kandidat doktor dari Universitas Negeri Yogyakarta tersebut mengelaborasi pentingnya kesadaran manusia untuk memperkuat kepemimpinan di kalangan umat Islam. Kesadaran ini merupakan tanda keberhasilan seseorang dalam menjalankan rangkaian ibadah di bulan Ramadhan. Puasa, tarawih, tadarus, zakat, dan sedekah hakikatnya adalah media metamorfosa yang disediakan Allah untuk mengasah kepemimpinan manusia. Jika semuanya dijalankan dengan baik dan penuh penghayatan, maka di hari yang fitri ini, kita akan menjadi sosok baru yang berbeda dengan sebelumnya dan mampu memimpin perubahan, tutur Ripto memantabkan. Lebih lanjut bapak dua anak ini menandaskan bahwa kesuksesan menjalankan ibadah puasa bukan terletak pada kekuatan menjauhi faktor yang membatalkannya sejak fajar menyingsing hingga matahari terbenam. Tapi harus tercermin dari sikap dan perilaku sebelas bulan berikutnya. Sejak hari ini sampai Ramadhan yang akan datang. Oleh sebab itu, Ripto mengajak jamaah  untuk menjadikan hari kemenangan ini sebagai momentum perubahan. Patrikan niat untuk mengisi hari-hari di masa depan, dengan aktivitas multiguna yang bernilai ibadah. Kuatkan tekad untuk menjadi pembaharu, lalu hadirkan perubahan positif bagi keluarga, lingkungan dan masyarakat, bangsa dan negara. Didalam mengemban misi kekhalifahan di muka bumi, mantan aktivis HMI ini menghimbau agar umat Islam lebih banyak bercermin pada kepemimpinan Rosululloh SAW.  Karena Nabi adalah seorang pemimpin sekaligus kepala negara yang disayangi kawan dan disegani lawan. Teladan ideal dalam berdemokrasi dengan menyelesaikan semua masalah duniawi melalui musyawarah. Beliaulah kekasih Allah yang sukses mengubah bangsa Arab yang jahiliah menjadi madaniah, yang barbar menjadi penyabar, dan yang sektarian menjadi egalitarian, urai Ripto setengah berdeklamasi. Menurutnya, prestasi Rasulullah diatas  telah menginspirasi jutaan tokoh lain di dunia dalam melakukan perubahan dan menggerakkan pembaruan. Jadi, adalah sebuah keharusan bagi umat Islam, untuk menjadikan beliau sebagai rujukan utama dalam seluruh aspek kehidupan. Sifat, sikap, tindakan, dan ucapan seorang pemimpin sebisa mungkin selaras dengan yang dicontohkan Rasulullah SAW. Sejarah sudah memberikan paparan yang jelas empat karakter seni kepemimpinan Rosululloh, yakni: adalah shidiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), tabligh (komunikatif), fathonah (cerdas/visioner. Jadi, yang perlu kita lakukan saat ini adalah memahami esensi dari setiap karakter tersebut, sehingga bisa diaplikasikan dalam seni kepemimpinan Indonesia modern, kata Ripto meyakinkan.   Di bagian akhir  khutbahnya, Suripto  mengajak umat untuk memohon kehadhirat Allah SWT, agar pemimpin kita selalu di beri kekuatan untuk menapaki jalan yang benar dan dijadikannya sebagai pemimpin yang amanah. Beliau juga berdoa semoga Allah SWT segera menyadarkan para pemimpin di negeri ini  untuk menjalankan amanatnya secara jujur, transparan, dan penuh keikhlasan sehingga negeri ini betul-betul menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Negeri yang jauh dari bencana karena pemimpinnya semakin dekat pada penciptanya, yaitu Allah SWT, pungkas Ripto mengakhiri khutbahnya. (Ripto)


Selengkapnya
132

PATNA SUNU, ANGGOTA KPU KABUPATEN TRENGGALEK DIVISI HUKUM, PENGAWASAN SDM, DAN ORGANISASI

KPU-TRENGGALEKKAB.GO.ID. Dalam kesehariannya Patna Sunu merupakan pria yang ramah. Dia  lahir di Dusun Kademangan, Rukun Tetangga 005, Rukun Warga 002, Desa Bendoagung, Kecamatan Kampak, Kabupaten Trenggalek. Dibesarkan oleh pasangan keluarga Nahdliyin/NU (Siswantoro-Murtiatin) yang bijaksana, santun dan disiplin karena berlatar belakang sebagai pensiunan guru SD (ayah) dan pedagang (ibu). Lulusan Fakultas Hukum Universitas Airlangga ini (2000) dan menyelesaikan S-2 nya (2012) dikampus yang sama, banyak mewarnai aktivitasnya selama berkuliah dengan berdemonstrasi, berdiskusi, jurnalis kampus, dan bekerja part-time sebagai suveyor diberbagai lembaga survey marketing (INMAR, Accorn dan MarkPlus) untuk menyambung hidup. Dua tahun menjelajah Ibu Kota, magang setahun sebagai reporter Tempo News Room/TNR salah satu anak media Grup Tempo membuahkan pengalaman dan banyak jaringan, carut marutnya Jakarta membuat anak singkong ini terdepak dari persaingan ketat Jakarta. Kembali ke Surabaya, basis kota perjuangan banyak melakukan aktivitas pendampingan dan advokasi rakyat miskin kota/stren kali Surabaya dengan kelompok UPC (Urban Poor Consortium pimpinan Wardah Hafidz), Advokasi Warga Tubanan, advokasi warga Rawa Sekaran Lamongan dengan LBH NU. Di tengah ikhtiar advokasi tersebut, pria yang berpacaran dengan Ahrish Hidayah selama hidupnya ini banyak mengerjakan penelitian dari LP3ES Jakarta di wilayah Jawa Timur, mulai dari partisipasi politik warganegara, 100 hari pemerintahan reformasi, Pemilu dan Demokrasi maupun sebagai trainer voters of education. Karier yang monumental dalam kepemiluan oleh ayah dari 2 orang anak (Aulia  Maharani dan Arkana Abinaya Ataullah) ini adalah mengawal demokrasi Indonesia selama 3 periode di Kabupaten Trenggalek, dengan damai, demokratis, dan tanpa kekerasan. Tercatat sebagai Ketua Ikatan Sarjana Hukum Indonesia (ISHI) Kabupaten Trenggalek (2012-2014). Dan terakhir, pernah menjabat sebagai Ketua KPU Trenggalek periode (2008-2014) dan menyelesaikan S-2 nya, dengan tesis ”Dasar Kewenangan Pelelangan Barang Milik Negara Oleh Komisi Pemilihan Umum Kabupaten/Kota, (2012)” adalah kebanggan tersendiri buatnya. [NRN]


Selengkapnya
247

PROFIL DR. SURIPTO, SAg, MPd.I : KETUA KPU KABUPATEN TRENGGALEK

KPU-TRENGGALEKKAB.GO.ID. Suripto, lahir di Trenggalek, 25 Maret 1970. Dalam pergumulan hidupnya ia dibesarkan dalam tradisi keluarga dan masyarakat petani desa yang termarginalkan secara ekonomi, sosial, politik dan kebudayaan, tepatnya di Dusun Ketro Desa Dukuh Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek. Masa kecilnya dihabiskan di daerah kelahirannya bersama kedua orangtua dan saudara-saudaranya. Ditempat inilah ia tumbuh dan berkembang menjadi seorang anak dengan latar belakang pendidikan, culture dan pemahaman agama yang sangat kental dipengaruhi oleh iklim masyarakat sekitarnya. Sebagaimana anak-anak desa lainnya, aktivitas Suripto kecil di pagi hari belajar  di MIM (Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah) Dukuh lulus tahun 1984 dan di malam harinya belajar mengaji di Masjid  dekat rumahnya hingga tamat MTsN Trenggalek Filial di Prigi tahun 1987. Dalam meniti jenjang pendidikan tingkat lanjut, menjelang masa remaja beliau hijrah dari daerah kelahirannya untuk belajar di MAN Tulungagung (sekarang MAN I) dan diselesaikannya tahun 1990. Cita-citanya untuk kuliyah sempat tertunda setahun karena terkendala biaya. Masa trasnsisi tersebut dipergunakan belajar bahasa Inggris di BEC (Basic Engglish Course)  TC-30 di Pare-Kediri dibawah bimbingan Mr. M. Kalend O.  Ketika memasuki usia dewasa impian kuliyah di perguruan tinggi dapat terwujud dengan diterimanya di kampus pilihan IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (sekarang UIN) hingga lulus S-1 tahun 1998. Adapun pendidikan Pascasarjana (S-2) diselesaikan di Universitas Muhammadiyah Surabaya tahun 2007 dengan predikat Wisudawan Terbaik “Cumlaude” dengan theses berjudul “Rekonstruksi Pemikiran Pendidikan Islam Dalam Paradigma Pemikiran Filsafat Iqbal”. Sejak mahasiswa ia aktif dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan, penelitian dan volunteer sosial kemasyarakatan. Aktif di HMI, Pers Mahasiswa ARENA IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan Peneliti dalam Penelitian Potensi dan Kendala Manajemen PTS di Indonesia 1993, Penelitian Kebiasaan Membaca Surat Kabar Harian  1994 serta Penelitian untuk penerbitan buku “Profil 10 Universitas Swasta Terkemuka Indonesia” dan “Profil 10 Sekolah Tinggi Swasta Terkemuka Indonesia” sejak tahun 1994-1997. Diluar kampus, Suripto juga aktif di Yayasan Bina Potensia Yogyakarta, sebuah ornop yang bergerak dalam bidang pendidikan, pengorganisasian dan penelitian, seputar issu-issu pendidikan masyarakat sipil. Disamping aktif dalam berbagai Seminar dan Lokakarya Ilmiah, sejak tahun 1999 ia lebih concern dalam advokasi kebijakan di Kabupaten Trenggalek  serta giat mengorganisir petani, nelayan dan penguatan UMKM melalui Lembaga Pengkajian dan Pemberdayaan Masyarakat (PAMA) yang dipimpinnya. Pengalaman langsung bersama masyarakat dibidang  Community Development, Capcity Building, Community Organizer mengantarkan dirinya dipercaya dalam menangani berbagai program, diantaranya:1). Facilitator Provider dalam Project P2MPD, Kerjasama Bappenas-ADB tahun 2001-2003, 2). Project Coordinator  dalam Penataan Sistem Badi Hasil Penangkapan Ikan  Nelayan Pursein Pada Co-Fish Project (Coastal Community And Fisheries Resource Management Project)  Kerjasama ADB-Departemen Kelautan & Perikanan Tangkap Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Tahun 2003, 3). Project Coordinator  dalam PKH (Pengelolaan KeanekaragamanHayati) Pada Co-Fish Project (Coastal Community And Fisheries Resource Management Project), Kerjasama ADB-Departemen Kelautan & Perikanan Tangkap Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Tahu 2004, 4). Project Coordinator dalam Pengelolaan UPK (Unit Pengelola Keuangan) Pada Proyek Pengembangan Desa Model Gerdu Taskin Jatim di Desa Barang Kec. Panggul, Kerjasama dengan BAPEMAS Jatim , Tahun 2005, 5). Tim Penyusun STRADA PDT (Strategi Daerah Dalam Pembangunan Daerah Tertinggal) Tahun 2007-2009 di 6 Kecamatan Kabupaten Trenggalek, Kerjasama Bappekab Trenggalek-Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal, Tahun 2006, 6). Penanggung Jawab program PIDRA (Participatory Integrated Developmen in Rainfed Areas)  di 15 Desa, 6 Kecamatan,  Kabupaten Trenggalek yang didanai dari IFAD (International Fund for Agricultural Development) Italy tahun 2006-2009, dan 7). Narasumber dalam bergagai diklat, workshop, seminar, lokakarya, TOT yang diselenggarakan pemerintah, swasta maupun CSO (Civil Society Organization) Meskipun berprofesi sebagai pengelola konstalasi politik, disela-sela kesibukannya sebagai Ketua KPU Kabupaten Trenggalek, mantan aktivis HMI ini memiliki dedikasi yang tinggi terhadap dunia keilmuan. Ayah dari dua putri; Fidya Fatma Fadhillah dan Fara Verifika Fadhillah hasil dari perkawiannya dengan Prasetyorini, SE  ini masih terus semangat untuk menuntut ilmu. Pria yang sempat mendalami ilmu social di Program Pascasarjana UNY (Universitas Negeri Yogyakarta) telah berhasil menyelesaiakan studi S-3  dan dikukuhkan sebagai Doktor Ilmu Pendidikan pada tanggal 11 Agustus 2017 di Universitas Negeri Yogyakarta  bimbingan Prof. Zamroni, MSc, Ph.D sebagai Promotor dan Dr. Dwi Siswoyo, M.Hum selaku Co-Promotor. Ujian terbuka di AULA Lantai 3 Gedung Pasca Sarjana UNY tersebut  yang dipimpin oleh Prof. Dr. Achmad Dardiri, M.Hum sebagai Ketua Sidang/penguji, Dr. Mohammad Nurwangit, MSi selaku Sekretaris sidang/penguji, Prof.Dr. Sarbiran, M.Ed dan Dr. Kasiyarno, M.Hum masing-masing sebagai penguji utama dan penguji, Prof. Zamroni, MSc.Ph.D sebagai penguji dan Dr.Dwi Siswoyo, M.Hum juga sebagai penguji. Komitmen Soeripto sebagi penyelenggara pemilu ditopang dengan kompetensi akademiknya diharapkan akan meningkatkan profesionalisme dalam menyelenggarakan pemilu.(Humas)


Selengkapnya
110

MUDIK LEBARAN DI KALANGAN KOMISIONER DAN PEGAWAI KPU KABUPATEN TRENGGALEK

KPU-TRENGGALEKKAB.GO.ID. Fenomena mudik lebaran adalah hal yang lumrah terjadi tiap menjelang hari raya, dengan segala suka dan dukanya. Demikian halnya yang terjadi di kalangan personil KPU Kabupaten Trenggalek. Gejala mudik ini juga disinggung oleh Ketua KPU Kabupaten Trenggalek Suripto dalam rapat analisa dan evaluasi, Jumat 01 Juli 2016 yang dimulai pada pukul 14.00 tersebut. Kebetulan ini adalah rapat terakhir sebelum hari libur lebaran datang. “Mudik itu artinya ‘mulih dilik’ alias pulang sebentar, pulang untuk merayakan hari raya dan berslitaruhami  bermaaf-memaafan dengan keluarga atau saudara di kampung halaman”, papar pria yang juga akan menjadi Khatib pada shlat Id di Hari Raya Idul Fitri ini nanti. Menurutnya, baginya mudik adalah proses spiritual dan punya makna filosofis. Sebab bagi pria asal Kecamatan Watulimo ini, mudik adalah pulang kembali ke suasana pedesaan yang tenang. Ibaratnya kita juga kembali ke fitri atau kesucian. “Hal itu senada dengan pengertian idul fitri dalam ajaran Islam, bahwa setelah berjuang mengalahkan hawa nafsu secara sebulan, kita meraih kemenangan dan kembali ke Fitri”, tegasnya. Kemudian Suripto juga mendoakan agar kegiatan mudik di kalangan anggota KPU dan pegawainya berjalan lancar. Perlu diketahui bahwa hampir semua komisioner dan pegawai KPU Kabupaten Treggalek berasal dari daerah yang jauh dari kota Trenggalek. Nur Huda, divisi Perencanan, Keuangan dan Logistik misalnya, berasal dari Tulungagung. Meskipun sudah pindah domisili di Trenggalek, tepatnya kecamatan Karangan, dia juga menjalankan tradisi mudik di Tulungagung. Bahkan pria alumni STAIN Tulungagung ini juga merencanakan mudik untuk menjalankan tradisi kirim doa. “Saya besok sudah mudik ke Tulungagung, mau nyekar”, katanya di sela obrolan selesai rapat. Sementara itu juga ada beberapa pegawai yang sudah merencanakan mudik ke tempat yang lebih jauh. Misalnya Woro Wikan, staf Subbagian Teknis dan Hupmas. Perempuan yang masih lajang ini akan  mudik ke Surabaya untuk lebaran bersama keluarga. [NRN]


Selengkapnya