Berita Terkini

84

PROFIL ISTATI’IN NAFIAH, KOMISIONER PEREMPUAN KPU TRENGGALEK PERIODE 2019-2024

Perempuan ini mengisi kuota perempuan di tubuh penyelenggara Pemilu di Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Trenggalek setelah dua periode tidak ada komisioner perempuan di lembaga ini. Nama aslinya adalah Istati’in Nafiah, biasa dipanggil I’in. Ia berlatarbelakang seorang pendidik, demikian juga kuliahnya adalah jurusan kependidikan (tarbiyah) di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Tulungagung. Di luar kegiatannya mengajar anak-anak sekolah dasar, baik di SDN Negeri Desa Duren maupun SD Inovatif di bawah Yayasan milik Organisasi Muhammadiyah, ia juga tak pernah absen sebagai penyelenggara Pemilu.  Pernah menjadi penyelenggara di tingkat Desa, juga pernah di tingkat kecamatan. Maka tiba takdir bagi I’in untuk naik ke lembaga penyelenggara tingkat lebih atas, tingkat kabupaten (KPU Kabupaten Trenggalek), setelah melalui serangkaian tes yang melelahkan selama lebih dari satu bulan. Dalam rapat Pleno oleh lima orang komisioner terpilih pada tanggal 13 Juni 2019, ia dipercaya menempati divisi Teknis Penyelenggaraan Pemilu. Saat ini, perempuan lembut ini beralamat di RT/RW. 007/002, Desa Gondang, Kecamatan  Tugu, Kabupaten  Trenggalek bersama suami dan dua orang anaknya. Ia lahir pada tanggal 06 April 1984, merupakan anak bungsu dari pasangan Choiri dan Sri Astutik. Choiri adalah seorang guru agama yang saat ini sudah pensiun. Sedangkan Sri Astutik adalah seorang ibu rumah tangga. Sebelum memasuki dunia perguruan tinggi, I’in memulai sekolah di MI Qomarul Hidayah Tugu pada tahun 1990. Lulus MI  pada tahun 1996 ia langsung melanjutkan di SMP pada yayasan yang sama. Bahkan SMA juga dijalaninya di sekolah dan yayasan yang sama. Waktu kuliah ia aktif di organisasi Himpunan Mahasiswa Islam di kampusnya, hingga ia menjadi Ketua Korp HMI Putri Cabang Tulungagung pada 2007-2008. Pengalaman organisasi inilah yang membuatnya juga tak hanya mengajar di sekolah ketika pulang di kampungnya. Selain mengajar, ia juga pernah ikut tenaga pendamping desa bentukan Pemda Trenggalek pada tahun 2011-2014. Ia juga menjadi pengurus kelompok tani wanita di kampungnya. Pengalaman diorganisasi dan kegiatan penyelenggaraan pemilu mulai desa higga kecamatan menjadi modal baginya untuk mengawal teknis penyelenggaraan Pemilu mulai Pilkada 2020 di Kabupaten Trenggalek, Pilkada 2023 Jawa Timur, hingga nantinya Pemilu nasional 2024. [Hupmas]


Selengkapnya
146

PROFIL IMAM NURHADI, KOMISIONER KPU TRENGGALEK ASAL MUNJUNGAN

Munjungan adalah salah satu kecamatan paling selatan Kabupaten Trenggalek. Wilayahnya terkenal sebagai kecamatan dengan medan tempuh paling sulit. Salah satunya karena untuk menuju ke kecamatan ini, orang dari kota Trenggalek harus melalui jalan yang curam sekali dengan tingkat kesulitan yang luar biasa. Dalam catatan sejarah Kepemiluan di Kabupaten Trenggalek, tidak pernah ada komisioner yang berasal dari Munjungan. Hingga kemudian hadirlah sosok Imam Nurhadi, tokoh pemuda Munjungan yang tiba-tiba lolos  seleksi KPU Kabupaten yang menjalankan serangkalain tes mulai awal Mei 2019 lalu. Ketika ia dilantik, maka ia mencatat sejarah. “Inilah pertama kali dalam sejarah, ada perwakilan Munjungan di komisi Pemilihan Umum Kabupaten Trenggalek, sehingga tidak ada gerakan Munjungan pisah dari Trenggalek lagi”, gurau Nurani, komisioner KPU dalam sebuah acara perkanalan. Sebagaimana keempat komisioner lainnya, Imam Nurhadi juga pernah lama menjalani proses pendidikan di luar Trenggalek. Jika yang lain pernah kuliah di Surabaya, Tulungagung, dan Jember yang masih Jawa Timur, Imam Nurhadi justru berproses di Yogyakarta selama menempuh pendidikan sarjana di Uiversitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta (UIN Suka). Ia mengambil jurusan Sosiologi di kampus itu. Di Yogyakarta, ia aktif baik di organisasi intra kampus maupun ekstra kampus. Selama di Yogyakarta, ia pernah menjabat sebagai Wakil Ketua BEM J PMI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (2002-2004). Di luar kampus ia menjadi Ketua I Remaja Masjid Balai Kota Yogyakarta (2003-2005) dan Dewan Kehormatan Remja Masjid Balai Kota Yogyakarta (2005-2007). Sedangkan di luar kampus ia aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Yogyakarta (2001-2005) lalu setelah itu ia juga menjadi Ketua IKAPMI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (2005 – 2007). Ia juga berproses di lembaga sipil yang bergerak di bidang Hak Asasi Manusia, tercatat ia pernah menjadi Manager Project FOPPERHAM pada tahun 2005 hingga 2007. Layaknya seorang yang terjun di dunia aktivisme, sejak pulang kampung di tahun 2007 iapun tak bisa tidak punya modal dan kapasitas besar untuk berperan si masyarakat Munjungan tempat ia lahir dan dibesarkan. Organisasi adalah alat yang ia pakai untuk berkiprah. Tercatat, ia menjadi Ketua Ranting GP. Ansor di desanya, Desa Karangturi (2008-2012). Kemudian naik “pangkat” ke pengurus tingkat kecamatan, di mana ia menjadi Wakil PAC. GP. Ansor Munjungan sejak 2012 hingga  2017. Sebua lompatan karier organisasional yang konsisten, sebab ia menjadi Sekretaris GP Ansor Cabang Trenggalek, dan pada saat yang sama juga menjadi Ketua PAC. GP. Ansor Munjungan (2017-2019). Sebenarya ia juga diterima sebagai  Pekerja Sosial (Peksos) di Madiun pada tahun 2012. Ia juga menjadi anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Karangturi periode 2008-2014.  Jadi, ia juga harus berbagi waktu dengan kegiatan yang ada di kampungnya sendiri. Hingga kemudian dilantik sebagai Komisioner KPU Kabupaten Trenggalek, ia harus segera mengurusi proses pengunduran diri  sebagai Guru MA Nurul Ulum Munjungan dan Kepala MI Miftahul Huda Munjungan. Berbekal pengalaman menjadi panitia Pemilu baik di TPS, tingkat desa, hingga tingkat kecamatan, ia ditakdirkan menjadi orang yang beruntung karena terpilih sebagai komisioner KPU Trenggalek. Pria kelahiran   24 Oktober 1982 ini begitu masuk KPU langsung disubukkan dengan kegiatan persengketaan hasil Pemilu 2019 yang membuatnya harus bolak-balik ke Jakarta dalam mengikuti dan mengawal Sidang Mahkamah Konstitusi (MK). Posisinya sebagai Divisi Hukum dan Pengawasan bertanggungjawab untuk mengawal putusan MK terkait dengan gugatan dari partai politik di Trenggalek. Saat ini ia masih tinggal di  Dusun Nayu RT. 10 RW. 02 Desa Karangturi Kecamatan Munjungan Kabupaten Trenggalek. Pria yang bertubuh paling tinggi di antara lima komisioner KPU Trenggalek ini dikaruniai dua orang putra dari pernikahannya dengan Lilis, perempuan yang dikenalnya di kota tempatnya kuliah. [Hupmas]


Selengkapnya
109

TRENGGALEK AKAN MEMILIH KEPALA DAERAH BERSAMA 269 DAERAH LAINNYA

Dipastikan, masyarakat Kabupaten Trenggalek akan memilih Bupati dan Wakil Bupati pada tanggal 23 September 2020. Sebab sistem Pemilihan Kepala Daerah serentak masih belum berubah. Trenggalek akan punya “gawe” Pilkada bersama 269 daerah lainnya di Indonesia. Sebagaimana dikatakan Ketua KPU Republik Indonesia di Jakarta sebagaimana dilansir Kompas.Com, KPU provinsi, kabupaten/kota akan menyelenggarakan pemilihan gubernur, bupati, dan walikota tahun 2020 sebanyak 270 daerah. Dari 270 daerah itu rinciannya adalah  sembilan pemilihan gubernur, 224 pemilihan bupati, dan 37 pemilihan walikota. Sembilan provinsi yang akan melaksanakan pemilihan gubernur meliputi Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, Kepulauan Riau, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah. Sedangkan pemilihan tanggal 23 September 2020 sebagai waktu pemungutan suara sudah tertuang dalam Peraturan KPU tentang Tahapan yang juga sudah merupakan hasil  rapat pleno yang telah dilakukan KPU sebelumnya. Pemilihan gubernur, bupati, dan walikota tahun 2020 akan diselenggarakan pada hari Rabu, sebagaimana yang telah kita laksanakan pada pemilu-pemilu, kita selalu dilaksanakan pada hari Rabu. “Jadi ada beberapa tanggal pilihan hari Rabu di bulan September tahun 2020, dan KPU memilih tanggal 23 September”, jelas Arief. Menanggapi informasi dari Jakarta ini, Ketua KPU Gembong Derita Hadi mengatakan bahwa dipastikan KPU Kabupaten Trenggalek siap seratus persen. Menurutnya, penyelenggaraan Pemilu, baik Pemilu nasional maupun Pemilihan Kepala Daerah memang menjadi tugas KPU sebagai penyelengara yang harus mengawalnya dengan baik. Gembong memaparkan persiapan yang sudah dilakukan adalah fokus pada kordinasi dengan Pemerintah Daerah terkait anggaran Pilkada melalui hibah. “Anggaran kegiatan sudah kami ajukan dan kami terus kordinasi untuk berkomunikasi hingga nantinya penandatanganan hibah dilakukan dan setelahnya”, imbuh Gembong. [Hupmas]


Selengkapnya
55

PENDAFTARAN CALON BUPATI DI TRENGGALEK PADA AWAL MARET 2020

Trenggalek akan punya “gawe” politik elektoral untuk memilih Bupati dan Wakil Bupati pada tahun depan. Bahkan sebagaimana tertuang dalam Draft Peraturan KPU RI tentang Tahapan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, Wakilota dan Wakil Walikota yang sudah diplenokan oleh KPU, pemungutan suara akan jatuh pada Hari Rabu tanggal 23 September 2020. Menurut draft PKPU tersebut, tahapan Pilkada sudah mulai tahun 2019 ini. Terutama tahapan sosialisasi dan akhir tahun sudah masuk pada pembentukan badan ad hoc (Panitia Pemungutan Suara dan  Panitia Pemilihan Kecamatan). Kemudian pada 27 Maret-22 September 2020 akan dilakukan update data pemilih. Pendaftaran pasangan calon gubernur dan wakil gubernur dilaksanakan pada bulan Februari 2020. Sementara, untuk pendaftaran calon bupati dan wakip bupati serta walikota dan wakil walikota akan dilaksanakan pada minggu pertama bulan Maret. Nurani, Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, Partisipasi, dan SDM KPU Kabupaten Trenggalek memang belum melakukan sosialisasi secara resmi terkait pelaksanaan Pilkada 2020 pada masyarakat. Ia melihat bahwa di medsos sudah beredar isu tentang nama tokoh-tokoh yang diprediksi oleh masyarakat akan muncul. KPU Trenggalek, menurut Nurani, akan melakukan kegiatan sebagaimana tahapan sebagaimana diatur oleh KPU. Ia mengakui bahwa beredarnya nama-nama di medsos baik untuk demokrasi. “Artinya sudah banyak yang tahu bahwa tahun depan akan ada Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati, ini sudah termasuk pengetahuan tentang Pilkada”, imbuh Nurani. [Meris]


Selengkapnya
52

KPU TRENGGALEK HADIRI RAKOR PARTISIPASI MASYARAKAT DI MAGETAN

Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Trenggalek bersama KPU Kabupaten/Kota se-Jawa Timur hadir dalam acara rapat kordinasi Evaluasi Partisipasi Masyarakat dalam Pemilu 2019. Acara yang diselenggarakan atas undangan KPU Propinsi Jawa Timur ini diadakan di  Rumah Makan Harmada Kabupaten Magetan, pada hari Jumat-Sabtu, 05-06 Julu 2019. Acara dimulai pada pukul 15.00 WIB dengan menyanyikan lagu Kebangsaan Indonesia Raya, lalu dilanjutkan dengan Sambutan Ketua KPU Propinsi Jawa Timur Choirul Anam yang sekaligus membuka acara. Lalu dilanjut dengan arahan  umum dari masing-masing komisioner KPU Propinsi  yang sore itu hadir, yaitu Miftahur Rozak (Divisi Keuangan—Umum—dan—Logistik), Nurul Amalia (Divisi Perencanaan,  Data, dan Informasi), juga divisi yang mengordinasi kegiatan partisipasi masyarakat, yaitu Gogot Cahyo Baskoro. Dalam arahannya, Divisi Partisipasi Masyarakat KPU Propinsi Jawa Timur   Gogot Cahyo Baskoro mengucapkan terimakasih atas peran KPU kabupaten/kota di Jawa Timur yang ikut andil  dalam meningkatkan partisipasi pemilih di Jawa Timur dalam Pemilu 2019. Meskipun demikian, ia menambahkan bahwa angka partisipasi yang tinggi dalam Pemilu 2019 juga disebabkan oleh faktor lainnya. Misalnya masih ada kegiatan “money politic” yang tinggi dari para caleg. Menurutnya, hal itu merupakan tantangan yang harus dihadapi untuk  terus melakukan pendidikan pemilih agar kuantitas pemilu juga diiringi dengan kualitas demokrasi yang baik. Acara yang dilaksanakan dua hari ini juga membahas optimalisasi Rumah Pintar Pemilu (RPP), Pendidikan Pemilih, serta menyusun daftar pengembangan kegiatan untuk direkomendasikan bersama dalam rangka peningkatan partisipasi pemilih. Dalam acara ini juga diberikan penghargaan pada Relawan Demokrasi terbaik, yang juga diberikan kesempatan untuk memaparkan pengalamannya selama kegiatan Relawan dalam Pemilu 2019 lalu. [Hupmas]


Selengkapnya
65

RELAWAN DEMOKRASI KPU TRENGGALEK TERBAIK, DAPAT PENGHARGAAN DARI KPU PROPINSI

Ada yang menggembirakan dalam acara rapat kordinasi Evaluasi Partisipasi Masyarakat dalam Pemilu 2019 yang diselenggarakan atas undangan KPU Propinsi Jawa Timur di  Rumah Makan Harmada Kabupaten Magetan, pada hari Jumat-Sabtu, 05-06 Juli 2019 lalu. Pasalnya, dalam acara ini juga diberikan penghargaan untuk KPU Kabupaten Trenggalek  yang Relawan Demokrasinya mendapatkan predikat terbaik dalam kerja pendidikan Pemilih pada Pemilu 2019 lalu.  KPU Kabupaten Trenggalek dianggap memiliki Relawan Demokrasi terbaik dalam hal kegiatan yang inovatif, kreatif,  dan tepat sasaran. Relawan Demokrasi KPU Kabupaten Trenggalek menjadi terbaik dalam kategori tersebut bersama KPU Kabupaten Bojonegoro (Kategori Partisipasi Pemilih terbanyak) dan KPU Kabupaten Malang (Kategori kegiatan sosialisasi dan pendidikan pemilih dengan jumlah terbanyak). Prestasi ini diumumkan pada Jumat malam, hari pertama acara rakor, sekaligus pemberian penghargaan berupa bingkisan dan uang tunai. Hadiah dan penghargaan langsung diserahkan pada Divisi Parmas KPU Propinsi, Gogot Cahyo Baskoro kepada Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, Partisipasi Masyarakat, dan Sumber Daya Manusia, Nurani maupun perwakilan Relawan Demokrasi yang juga dihadirkan dari KPU Trenggalek, Muhammad Zamzuri. Menurut Nurani selaku divisi yang membidangi partisipasi masyarakat, penghargaan ini adalah hasil kerja keras KPU Kabupaten Trenggalek bersama Relawan Demokrasi yang telah bekerja selama tiga bulan mulai Februari hingga April lalu. Salah satu faktor keberhasilan ini adalah rekrutmen relawan demokrasi yang tepat, memiliki relawan-relawan yang handal. “Juga perencaaan kerja dan kontrol kegiatan dan evaluasi berkala yang diakan selama masa tugas relawan”, imbuhnya. [Hupmas]


Selengkapnya