Berita Terkini

47

SOSIALISASIKAN PEMILU PADA PEMILIH PEMULA, RELAWAN DEMOKRASI TRENGGALEK BIKIN ACARA “DEMOKRASI MILENIAL”

TRENGGALEK,11/02/2019— Dalam mewujudkan demokrasi elektoral  yang berbasis pada pemilih berdaulat, Relawan Demokrasi Trenggalek basis Pemilih Pemula  melaksankan kegiatan sosialisasi dengan menggandeng pelajar dan komunitas remaja. Acara yang diberi tajuk “Demokrasi Milenial” ini menghadirkan dua narasumber, yaitu  Lutfi Triono Duta Genre 2017 dan KPU Kabupaten Trenggalek,  Nurani. Acara yang digelar di aula Balai Desa Kamulan Kecamatan Durenan ini  dihadiri oleh para pemilih pemula dari SMK Islam Durenan,  SMAN 1 Durenan, SMK Terpadu Assalam, dan para organisasi dari Karang Taruna,  serta IPNU-IPPU. Tujuan diadakannya acara tersebut diharapkan para pemilih pemula sadar akan pentingnya peran pemilih dalam menentukan nasib bangsa pada masa mendatang.  "Kita punya harapan besar kepada pemilih pemula,  yang memang mengedepankan idealisme bisa menjadi pionir pemilih rasional, dan harapannya bisa menularkan prinsip tersebut  kepada masyarakat”, ujar Nurani. Penyampaian informasi tak hanya berhenti di situ saja, melainkan juga menyinggung tentang hal kerugian harga diri ketika pemilih pemula membiasakan money politik karena masa depan tidak cukup di atas uang tapi juga kesejahteraan.   Sementara itu Duta Genre Trenggalek 2017, Lutfi Triono, menyampaikan motivasi bagi pemilih pemula akan pentingnya tidak golput dan mengajak untuk memberikan hak pilihnya pada tanggal 17 april 2019. Pemuda yang juga sedang menempuh pendidikan di IAIN Tulungagung ini juga mengajak agar anak-anak muda dan remaja memiliki sikap yang rasional dan kritis. “Kita sikapi tiap informasi di media sosial secara kritis, jangan ditelan mentah-mentah”, tegasnya. Dalam acara tersebut terjadi hal yang unik, bagi peserta yang bertanya dan menyampaikan pendapatnya mendapatkan doorprice, yaitu sebuah buku karya para penulis Trenggalek.  Juga tidak lupa tim Relawan Demokrasi segmen pemilih pemula menyampaikan pentingnya hak pilih 17 April 2019, teknik memahami surat suara, dan cara mencoblos yang benar. [RDT]


Selengkapnya
45

EKA, RELAWAN DEMOKRASI TRENGGALEK, SOSIALISASIKAN PEMILU 2019 KE IBU-IBU JAMAAH YASIN

TRENGGALEK, 10/02/2019— Pada hari Minggu tanggal 10 Februari 2019 mulai pukul 19.00 WIB, Relawan Demokrasi Trenggalek berbasis kelompok keagamaan melakukan sosialisasi Pemilu 2019 di RT 11 Dusun Winong Desa Sumurup Kecamatan Bendungan. Eka Purnamawatik selaku Relawan Demokrasi masuk ke kumpulan ibu-ibu Jamaah Yasin yang beranggotakan sekitar 30-an perempuan. Itu adalah acara rutin mingguan yang dilakukan ibu-ibu.   Sebelum melakukan sosialisasi, Eka memang sudah mohon ijin bahwa setelah bacaan doa-doa selesai ia minta waktu untuk bicara. Setelah saatnya tiba, Eka pun menyampaikan materi-materi terkait kepemiluan, terutama teknis-teknis yang perlu dipahami oleh ibu-ibu Jamaah Yasin. Ia memperkenalkan partai-partai politik peserta Pemilu. Lalu ia memberikan pemahaman tentang ciri-ciri surat suara.  Eka juga membimbing ibu-ibu cara mencoblos yang benar. Tak lupa, perempuan muda yang juga menjadi penyuluh agama non-PNS di kecamatan Bendungan ini juga memberitahukan tentang konsep dan praktik pindah pilih. [RDT]


Selengkapnya
48

RELAWAN DEMOKRASI TRENGGALEK GELAR ACARA BERTEMA “BADAN SEHAT UNTUK DEMOKRASI KUAT”

TRENGGALEK, 12/02/2019— Pada hari Selasa kemarin (12/2/2019), Relawan Demokrasi Trenggalek Segmen "Berkebutuhan Khusus" menggelar acara Sosialisasi Pemilu 2019. Acara dilaksanakan di halaman Polindes Gandusari dengan tema "BADAN SEHAT UNTUK DEMOKRASI KUAT". Acara yang dimulai pukul 14.00 WIB ini dihadiri sekitar 100 orang yang berasal dari kelompok masyarakat pinggiran dari berbagai wilayah, utamanya masyarakat Gandusari, Dongko, Tugu dan juga masyarakat sekitar Polindes Gandusari Kabupaten Trenggalek. Sosialisasi secara resmi dibuka langsung oleh kordinator segmen kebutuhan khusus ini mendapat antusias yang luar biasa dari peserta sosialisasi karena saat registrasi peserta juga diberikan cek kesehatan gratis. Setelah pembukaan, acara diteruskan dengan materi "Pentingnya menjaga kesehatan dan kebersihan lingkungan" dari pihak puskesmas Gandusari,  yaitu Ibu Ririn Setyarini atau yang akrab dipanggil mbak Ririn. Beliau menjelaskan bahwa peran masyarakat sangatlah penting untuk menjaga kesehatan dan kebersihan lingkungan utamanya pada antisipasi maraknya wabah demam berdarah yang disebabkan oleh gigitan nyamuk. Selain arahan 3M yakni menutup menguras mengubur, masyarakat juga dihimbau untuk segera melaporkan pada pihak kesehatan jika ada gejala demam berdarah supaya lekas ditangani, tuturnya. Sehabis materi dari mbak Ririn, Materi yang kedua dijelaskan oleh Ardiyansyah atau yang akrab dipanggil pak Thiwul yang punya hobi Naik Vespa. Kordinator Relawan Demokrasi Trenggalek (RDT) ini menjelaskan bahwa, acara ini tidak ada unsur untuk mendukung salah satu Paslon maupun salah satu Partai. Ia menjelaskan bahwa Relawan Demokrasi Trenggalek bersifat netral. Selain pentingnya peran masyarakat untuk mensukseskan pemilu pada 17 April 2019 nanti, ketua RDT yang suka berpakaian khas Jawa ini juga memberikan pendidikan pemilu kepada seluruh peserta yang hadir. Pak Thiwul menjelaskan bahwa golput bukanlah sebuah solusi. Karena suara rakyat menentukan arah kemajuan negeri ini. Dengan menggunakan Alat Peraga berupa contoh Surat suara Calon Presiden dan Calon anggota Dewan, Beliau menjelaskan tentang jenis dan warna surat suara yang akan digunakan nantinya. Seusai sambutan dari Ketua Relawan Demokrasi Trenggalek, acara sosialisasi ditutup dengan pembagian selebaran Dari pihak puskesmas tentang pentingnya menjaga kesehatan dan kebersihan dan juga tidak kalah pentingnya  pembagian stiker dari RDT berkebutuhan khusus tentang ajakan untuk mencoblos dan mensukseskan pemilu pada 17 April 2019 mendatang. [RDT]


Selengkapnya
44

AGUS KURNIAWAN, RELAWAN DEMOKRASI TRENGGALEK, SOSIALISASI DI JAMAAH LERENG GUNUNG BOGANG

TRENGGALEK, 07/02/2019— Sejak Relawan Demokrasi dibentuk, sosialisasi menjadi semakin massif. Hampir tiap hari ada kegiatan sosialisasi Pemilu 2019. Bahkan sehari bisa lebih dari satu kali kegiatan di tempat yang berbeda. Hal ini tentunya tak lepas dari militansi para relawan Demokrasi Trenggalek yang memang ditugaskan untuk melakukan sosialisasi secara massif. Pada hari Kamis, 07 Februari 2019, Agus Kurniawan Relawan Demokrasi Trenggalek dari Segmen Marginal melakukan sosialisasi Pemilu Serentak 2019. Ia menyasar bapak-bapak petani yang melaksanakan rutinan Yasinan di Lereng Gunung Bogang Sawahan, tepatnya di RT 21RW 11 Dusun Jati Desa Sawahan Kecamatan Panggul, Kabupaten Trenggalek. Dengan berbakal contoh surat suara pada saat itu Agus menyampaikan materi mengenai jenis-jenis surat suara serta tata cara pencoblosan. Ternyata masih banyak sekali warga yang belum tahu jenis-jenis surat suara dan tata cara pencoblosan sehingga pada malam itu Agus di sambut baik oleh para warga serta para warga tersebut merasa mendapatkan edukasi mengenai hal tersebut. [RDT]


Selengkapnya
52

TEMPUH MEDAN EKSTRIM, TIM RELAWAN DEMOKRASI TRENGGALEK SOSIALISASIKAN PEMILU 2019 DI DESA NGEMBEL

Trenggalek, 11/02/2019—  Hari Senin pukul 6 pagi. Tim Relawan Demokrasi segmen pemilih perempuan bergerak menuju ke Desa Ngembel, Kecamatan Watulimo. Mayoritas anggota tim relawan belum pernah menginjakkan kaki di Desa Ngembel, maka hanya dengan bermodal nekad dan keberanian seadanya mereka bergerak menuju ke daerah yang terkenal dengan jalan bermedan ekstrim tersebut. Bahkan salah satu anggota relawan, yaitu Efi Kamalasari (28 tahun) sampai meminta pengawalan khusus dari sang suami demi keamanan selama perjalanan. “Soalnya saya belum pernah ke Ngembel dan selain itu saya juga tidak berani sepeda motoran naik gunung sendiri. Mumpung suami lagi gak ada jadwal kerja dan anak bisa ditinggal sama mbah utinya di rumah”, Efi menjelaskan. Acara sosialisasi di Desa Ngembel ini merupakan inisiatif dari Dian Meiningtias (24 tahun), yang juga merupakan kordinator  relawan demokrasi segmen pemilih perempuan. Selain karena ia  juga penduduk asli Desa Ngembel. Selain menjadi ketua koordinator, Dian juga harus merangkap menjadi tukang ojek dadakan yang bertugas menjemput beberapa anggota tim relawan yang mengalami kendala di perjalanan, utamanya yang  tidak kuat naik karena jalan yang super ekstrim maupun karena terkena ‘culture shock’ setelah menempuh jalanan menuju Desa Ngembel yang sulit. Jalan ke Desa Ngembel kebanyakan memang masih berupa jalan rabatan yang berbatu-batu. Jalurnya banyak yang  menanjak dengan kemiringan yang cukup berbahaya bagi mereka yang belun terbiasa menempuh jalur semacam itu. Tim relawan baru bisa bernapas lega ketika tiba di Kantor Balai Desa Ngembel, dimana acara sosialisasi dilaksanakan. Tanpa menunggu waktu lama, tim relawan segera bergerak mempersiapkan acara, mulai dari menata kursi, meja, memasang ‘backdrop’ sampai mempersiapkan laptop dan LCD proyektor. Lagi-lagi suami Efi ‘terpaksa’ ikut menjadi panitia dadakan di acara ini, ikut membantu mengangkat meja dan kursi. Lalu karena menjadi satu-satunya laki-laki dan memiliki postur tubuh yang lebih tinggi dibanding kaum perempuan yang ada di sana, maka jadilah dia diminta untuk memasang ‘backdrop’ di tembok balai desa. “Wis to ora popo, mbak. Wong ini ya juga demi mbantu istri melaksanakan tugas jadi relawan”, demikian ucap suami Efi sambil memalu paku di tembok untuk memasang ‘backdrop’.   Sekitar pukul 08.30 WIB peserta sudah mulai berdatangan, para peserta yang semuanya ibu-ibu tersebut dipandu satu persatu oleh tim relawan untuk mengisi daftar hadir. Setelah mengisi daftar hadir, peserta dipersilahkan memasuki aula balai desa dengan diberi sekotak ‘snack’ yang telah disediakan oleh panitia sembari menunggu acara dimulai. Acara dimulai satu jam kemudian, bertindak sebagai MC acara ini adalah Novi (22 tahun), salah satu anggota relawan yang berasal dari Durenan. Acara dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya yang dipandu oleh Efi sebagai ‘dirigent’, kemudian dilanjutkan dengan sambutan oleh Bapak Kepala Desa Ngembel, Bapak Radis. Pada pidato sambutannya, bapak kepala desa menyatakan rasa senang dan terima kasih karena tim relawan demokrasi sudah bersedia datang ke Ngembel untuk mengadakan sosialisasi pemilu 2019 kepada kaum perempuan di desa Ngembel. Ia menyatakan bahwa masyarakat Desa Ngembel masih banyak mengalami keterbatasan akses informasi dikarenakan medan yang lumayan sulit ditempuh. “Jadi, hal semacam ini memang sangat dibutuhkan bagi warga kami”, tegasnya. Narasumber pertama pada acara sosialisasi kali ini adalah Seli Muna Andriani, S. Ag, koordinator SDM dan Intelektual di FPF (Forum Perempuan Filsafat) IAIN Tulungagung. Dalam materinya yang bertajuk “Penguatan Peran Perempuan Dalam Pembangunan Daerah Pedesaan dan Hak Pilih Perempuan Pada Pemilu 2019”, Seli memaparkan tentang pentingnya posisi Perempuan dalam politik, termasuk politik elektoral (Pemilu). Tim relawan juga dibuat terharu karena salah satu narasumber dari KPU Trenggalek, Nurani,   bersedia meluangkan waktu mengisi acara sosialisasi di Desa Ngembel meskipun kondisi pria ini  sedang dalam keadaan sakit flu berat. Sama-sama harus menempuh medan ekstrim untuk sampai di Ngembel, begitu mendarat di lokasi acara, Nurani sempat berbisik kepada Dian yang saat itu bertindak sebagai moderator, “Sik to, daerah kene iki opo yo sik termasuk bagian wilayah Trenggalek?” sebagai bentuk keterkejutannya karena sama seperti tim relawan, ini juga merupakan pengalaman pertama beliau berkunjung ke Desa Ngembel. Sebuah fakta yang cukup mengherankan karena Nurani notabene adalah penduduk asli (kelahiran) Kecamatan Watulimo yang masih satu kecamatan dengan Ngembel.   Antusiasme peserta tidak berkurang ketika Nurani menyampaikan materi yang kedua. Beliau lebih banyak membahas tentang teknis pemilu 2019, yaitu tentang kapan Pemilu 2019 dilaksanakan, apa saja yang harus dicoblos oleh pemilih, apa saja warna surat suara yang terdiri dari 5 macam itu dan bagaimana cara mencoblos yang benar agar suara sah. Selain itu, pada kesempatan kali ini beliau juga membahas tentang isu-isu perempuan. Peserta selama mengikuti acara juga memiliki respon yang bagus terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dilemparkan oleh narasumber sehingga terjadi semacam dialog interaktif antara kedua narasumber dengan peserta. Sebelum acara diakhiri, peserta diminta untuk berfoto bersama sambil meneriakkan yel-yel “Jangan Lupa Tanggal 17 April 2019, Ayo Kita Nyoblos!” Acara sosialisasi ini tidak akan bisa terlaksana dengan lancar tanpa adanya sinergi dan dukungan dari pemerintah Desa Ngembel. Sebelum meninggalkan tempat, tim relawan mengucapkan terima kasih kepada Bapak Kepala Desa Ngembel, Bapak Radis, bapak sekretaris Desa Ngembel, Bapak Supanut, dan ibu bendahara Desa Ngembel, Ibu Lamisah yang sudah bersedia menerima teman-teman tim relawan demokrasi dengan tangan terbuka. [RDT]


Selengkapnya
50

SELI MUNA ANDRIANI AKTIVIS FORUM PEREMPUAN FILSAFAT IAIN TULUNGAGUNG TENTANG PEMILU 2019 DI TRENGGALEK: PILIHAN PEREMPUAN TAK HARUS SAMA DENGAN SUAMI

TRENGGALEK, 11/02/2019— Kegiatan sosialisasi dan pendidikan pemilih (sosdiklih) tentang Pemilu serentak 2019 yang digelar di Balai Desa Ngembel Kecamatan Watulimo Trenggalek oleh Relawan Demokrasi Trenggalek senin lalu cukup kaya dalam memberikan wawasan pada kaum perempuan desa terkait peran politik perempuan dalam Pemilu. Salah satu narasumber pada acara sosialisasi ini adalah Seli Muna Andriani, S. Ag, koordinator SDM dan Intelektual di FPF (Forum Perempuan Filsafat) IAIN Tulungagung. Dalam materinya yang bertajuk “Penguatan Peran Perempuan Dalam Pembangunan Daerah Pedesaan dan Hak Pilih Perempuan Pada Pemilu 2019”, perempuan muda asli Blitar ini menjelaskan mengapa peran perempuan itu sangat penting dalam pembangunan. Menurut Seli,    pada dasarnya pendidik sekaligus pencetak generasi penerus suatu bangsa itu adalah kaum perempuan. Seli menunjukkan, dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) versi terbaru dari KPU,  jumlah pemilih perempuan lebih banyak daripada laki-laki, sehingga suara perempuan sudah seharusnya sama dihargai seperti laki-laki. Selama ini lebih banyaknya jumlah pemilih perempuan belum menghasilkan kebijakan maupun praktik politik dari politisi yang menunjukkan keberpihakannya pada perempuan. “Ini yang harus terus kita dorong, sehingga peran kita pada dasarnya tidak hanya berhenti pada proses nyoblos saja”, tegas Seli. Sebelum menutup materinya, Seli juga memberikan pesan kepada para peserta untuk selalu memperjuangkan hak-hak mereka sebagai perempuan termasuk hak pilih dalam Pemilu dan hak untuk mendapat pendidikan serta pekerjaan yang layak tanpa harus melupakan tugas mulia sebagai ibu rumah tangga. Hak itu juga berlaku dalam menentukan pilihan dalam Pemilu secara berdaulat. “Jadi, ibu-ibu sekarang kalau njenengan mau milih siapa di Pemilu nanti tidak harus ikut-ikutan suami atau bapak-bapaknya nggih, bu. Soalnya njenengan berhak untuk menentukan pilihan sendiri”, begitu pesan Seli Muna Andriani pada penghujung materinya. [RDT]


Selengkapnya