MENGENAL AGUS SARONDENG PENCIPTA JULA-JULI DEMOKRASI MASA PANDEMI

TRENGGALEK—Dengan anggaran yang minim, KPU Kabupaten Trenggalek berhasil melakukan sosialisasi dengan media seni “Jula-Juli Demokrasi” pada Hari Jumat, 04 Desember 2020. Tokoh kunci dalam acara yang dimulai pukul 20.00 WIB ini tentu saja adalah pengarang lirik lagu “Jula-Juli Demokrasi” itu sendiri yang juga pimpinan Campursari Madya Laras. Dialah sosok Agus Sarondeng, seniman tradisi yang paling berpengaruh di Trenggalek.

Menurut Nurani Soyomukti komisioner Divisi Sosialisasi-Pendidikan Pemilih, Partisipasi Masyarakat, dan SDM KPU Kabupaten Trenggalek, pengaruh yang paling nyata dari sosok Pak Agus adalah bahwa ia adalah pencipta lagu “Kutha Trenggalek”, lagu bernuansa lokal yang paling dikenal dan seringkali dinyanyikan ketika acara bernuansa ke-Trenggalek-an. “Beliau adalah seniman kreator, pencipta, bukan hanya memainkan seni karya orang lain”, tegas Nurani.

Nurani menceritakan bahwa Pak Agus Sarondeng juga punya kiprah cukup lama di dunia seni dan budaya. Selain penampil dan kreator, beliau juga pemikir. “Beliau bisa diajak bicara dengan baik bukan hanya mengenai masalah bagaiamana menampilkan karya dan pementasan yang baik, tapi juga cara memajukan seni-budaya Trenggalek”, tutur Nurani.

Agus Sarondeng punya nama asli Agus Mukarwanto. Beliau lahir pada 24 Agustus 1960. Di masa kecil, ia pernah sekolah di SD Wonoanti 2, lulus tahun 1972. Setelah itu ia masuk SMPN Kampak dan lulus pada tahun 1975. Dari situ beliau melanjutkan pendidikannya di SPGN Trenggalek, lulus pada tahun 1979.

Kemampuannya berkesenian banyak ditempa di Yogyakarta. Karena ia masuk di STSRI ASRI Jogjakarta, lulus pada tahun 1980. Ia sempat mengajar di SMPN Mulo Wonosari Gunungkidul, sebelum akhirnya pulang kampung ke Trenggalek, tepatnya di kecamatan Gandusari sebagai kampung halamannya. Pulang kampung ini berarti ia pindah mengajar di sekolah, yaitu ke SMPN pogalan mulai tahun 1986. Di sekolah inilah beliau banyak membina siswa-siswinya di bidang seni. Pada tanggal 1 September 2020 lalu, ia memasuki masa pensiun.

Selama hidupnya, di luar sekolah ia juga mendirikan grup musik campursari yang cukup laris dan terkenal, yang jumlah pentasnya tak terhitung baik dari panggung-panggung hiburan di acara hajatan maupun pentas yang dilakukan pemerintah daerah dan dinas-dinas. Bahkan pada tahun 2008, ia berkesempatan untuk ikut pentas dalam Ketoprak. Kemampuannya menampilan “dagelan”, membuatnya bisa satu panggung dengan Topan, pelawak yang terkenal tingkat nasional itu.

Karena peguasaannya pada seni, beberapa kali ia didaulat menjadi pengurus Dewan Kesenian Trenggalek. Pak Agus juga banyak mendapatkan peghargaan, yang jumlahnya tak bisa dihitung. Tak terhitung pula ia menjadi juri lomba-lomba kesenian, baik tingkat sekolah, kecamatan, dan kabupaten. [Hupmas]

Bagikan:

facebook twitter whatapps

Dilihat 92 Kali.